Sabtu, 29 September 2012

Khas Daerah Sampit



      1. Makanan Khas  Sampit
Kelakai ( entah apa nama latin / ilmiahnya ) tumbuh melimpah berupa semak-semak di sembarang tempat. Terbukanya lahan hutan karena adanya pemberdayaan lahan di pinggiran kota Sampit membuat kelakai berkembang meluas. Dari ciri fisiknya kelakai mungkin sejenis tumbuhan paku ( pakis ? ), tumbuh subur pada lahan gambut. Dari pengamatan, unsur gizi dari kelakai jelas terlihat pada ibu menyusui. Asi yang dihasilkan lebih berkualitas dan berlimpah. Hal ini membuat kelakai menjadi makanan yang banyak dikonsumsi ibu-ibu menyusui. Oseng kelakai sungguh enak dan mempunyai rasa khas dibanding sayuran umum. Rasanya, menurut pendapat saya, mirip-mirip dengan jamur. Jadi kalau kebetulan ke Sampit, jalan-jalanlah ke pinggiran kota sambil membawa pancing. Mungkin anda tidak akan banyak mendapat ikan. Tapi anda bisa sambil memetik kelakai. Karena hasil memetik sendiri, pasti lebih enak rasanya.

2. Rumah Adat
        
1.      Rumah Adat
Rumah Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu suku Dayak biasanya berdagang dengan menggunakan system barter yaitu dengan saling menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak).Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi di berbagai tempat. Ada rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar hingga 30 meter. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang ini saya perkirakan untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Beberapa unit pemukiman bisa memiliki rumah Betang lebih dari satu buah tergantung dari besarnya rumah tangga anggota komunitas hunian tersebut. Setiap rumah tangga (keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari rumah Betang yang besar tersebut, di samping itu pada umumnya suku Dayak juga memiliki rumah-rumah tunggal yang dibangun sementara waktu untuk melakukan aktivitas perladangan, hal ini disebabkan karena jauhnya jarak antara ladang dengan tempat pemukiman penduduk.
Lebih dari bangunan untuk tempat tinggal suku dayak, sebenarnya rumah Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan orang Dayak. Budaya Betang merupakan cerminan mengenai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. Nilai utama yang menonjol dalam kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan. Suku Dayak menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar