1. Makanan Khas
Sampit
Kelakai ( entah apa nama latin / ilmiahnya )
tumbuh melimpah berupa semak-semak di sembarang tempat. Terbukanya lahan hutan
karena adanya pemberdayaan lahan di pinggiran kota Sampit membuat kelakai
berkembang meluas. Dari ciri fisiknya kelakai mungkin sejenis tumbuhan paku (
pakis ? ), tumbuh subur pada lahan gambut. Dari pengamatan, unsur gizi dari
kelakai jelas terlihat pada ibu menyusui. Asi yang dihasilkan lebih berkualitas
dan berlimpah. Hal ini membuat kelakai menjadi makanan yang banyak dikonsumsi
ibu-ibu menyusui. Oseng kelakai sungguh enak dan mempunyai rasa khas dibanding
sayuran umum. Rasanya, menurut pendapat saya, mirip-mirip dengan jamur. Jadi
kalau kebetulan ke Sampit, jalan-jalanlah ke pinggiran kota sambil membawa
pancing. Mungkin anda tidak akan banyak mendapat ikan. Tapi anda bisa sambil
memetik kelakai. Karena hasil memetik sendiri, pasti lebih enak rasanya.
2. Rumah Adat
1.
Rumah
Adat
Rumah
Betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru
Kalimantan, terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat
pemukiman suku Dayak, dimana sungai merupakan jalur transportasi utama bagi
suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti
pergi bekerja ke ladang dimana ladang suku Dayak biasanya jauh dari pemukiman
penduduk, atau melakukan aktifitas perdagangan (jaman dulu suku Dayak biasanya
berdagang dengan menggunakan system barter yaitu dengan saling menukarkan hasil
ladang, kebun maupun ternak).Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi di
berbagai tempat. Ada rumah Betang yang mencapai panjang 150 meter dan lebar
hingga 30 meter. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan
ketinggian tiga sampai lima meter dari tanah. Tingginya bangunan rumah Betang
ini saya perkirakan untuk menghindari datangnya banjir pada musim penghujan
yang mengancam daerah-daerah di hulu sungai di Kalimantan. Beberapa unit
pemukiman bisa memiliki rumah Betang lebih dari satu buah tergantung dari
besarnya rumah tangga anggota komunitas hunian tersebut. Setiap rumah tangga
(keluarga) menempati bilik (ruangan) yang di sekat-sekat dari rumah Betang yang
besar tersebut, di samping itu pada umumnya suku Dayak juga memiliki
rumah-rumah tunggal yang dibangun sementara waktu untuk melakukan aktivitas
perladangan, hal ini disebabkan karena jauhnya jarak antara ladang dengan
tempat pemukiman penduduk.
Lebih dari bangunan untuk
tempat tinggal suku dayak, sebenarnya rumah Betang adalah jantung dari struktur
sosial kehidupan orang Dayak. Budaya Betang merupakan cerminan mengenai
kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari orang Dayak. Di dalam rumah Betang ini
setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat secara sistematis
diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Keamanan
bersama, baik dari gangguan kriminal atau berbagi makanan, suka-duka maupun
mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang. Nilai utama yang menonjol dalam
kehidupan di rumah Betang adalah nilai kebersamaan (komunalisme) di antara para
warga yang menghuninya, terlepas dari perbedaan-perbedaan yang mereka miliki.
Dari sini kita mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu
perbedaan. Suku Dayak menghargai perbedaan etnik, agama ataupun latar belakang
sosial.